Sabtu, 18 Mei 2013

SENYUM ITU BIASA TETAPI TERSENYUMLAH PENGARYHNYA LUAR BIASA

SENYUMLAH, SELAMA TAK PERLU PENJEPIT PIPI

Pagi ini, aku cuma berbaring di ranjangku, mendengar musik dari earphone, dan membiarkan nyamuk-nyamuk berkeliaran menyedot darahku.

Aku mengibaskan air asin yang bocor dari bendungan pelupuk mataku, beberapa kali menimpa tuts keyboard netbookku, kau tahu ? pagi ini aku berhasil membuat rekor 20 status galau per jam, dan sumpah serapah dua meter panjangnya di blog. gila kan !

Ya, segila segala sesuatu yang datang mendadak, lalu menghancurkan kebahagiaanku dalam festival olahraga nasional besok. besok !
"ray !"


Mama mulai lagi ritual ketuk pintu kamar a.k.a cemas padaku. meski malas, aku tak pernah membiarkan wanita lembut itu khawatir berkepanjangan, maka aku pun bangkit, berpaling sebentar dari netbook dan segala macam caci makiku, dan....

Bruk !
Tahukah kau bagaimana rasanya saat tulang ekormu menyentuh ubin dan berbunyi, tuk ! yah..mama langsung menyerbu masuk seperti burung yang di lempar biji jagung, kemudian ia membantu mendudukkan ku dikursi, kursi istimewa untuk orang cacat, kau tahu lah...
"ray, kamu harusnya bilang dong pintunya nggak dikunci, ada yang sakit sayang ?" mama memelukku seperti bayi yang baru saja jatuh dari atas kasur.

Aku lalu melepaskan pelukan mama, " ray enam belas tahun ma..., lagi pula tiga hari terakhir ini rasanya sekujur tubuh ray kaku kayak mayat, jadi biar pun ray jatuh seribu kali, nggak akan membuat ray kesakitan..."

Lagi, aku membuat mama menangis. dihadapannya aku sepertinya kuat, tapi sebenarnya aku karung basah. aku menangis, aku mengeluh dan membawa sumpah serapah pada apapun selain pada mama. pada mama aku tak berani mengeluh, mama sendirian, aku takut ia tak sekuat aku.

Ah, semuanya sejak aku terjun dari lantai tiga sekolahku, tiga hari dimana aku akan mengangkat namaku dan nama sekolahku diajang bulu tangkis nasional tingkat pelajar.

Teman-temanku sesama ekskul bulu tangkis dan teman-teman kelasku, datang kerumahku, bukan untuk memberiku selamat atas terpilihnya aku sebagai perwakilan sekolah diajang itu, tapi untuk memberiku buah-buahan, lalu mengucapkan ' semoga cepat sembuh, tetap semangat ya !' dan mereka pulang dengan sara syukur karena masih diberi kesehatan.

Dan dan saat semuanya begitu suram dalam setiap jengkal utakku, aku bertemu orang aneh yang mulutnya penuh dengan kata-kata penuh cinta, penuh harapan, dan aku mual saat itu.

Yang ku tahu namanya zen, usianya dua puluh tahun, ia seorang motivator dan penulis buku best seller yang mengajak orang semangat hidup bla..bla..bla...aku tak mengerti mengapa ia begitu terkenal, disukai banyak orang ? apa karena ia sempurna punya hidung mancung dan kulit yang putih ? atau karena ia bisa berdiri tegak..?
“berhentilah untuk mencoba membuat ku merasa lebih baik, karena aku takkan lebih baik lagi dari ini !” bentakku padanya suatu kali.

Ia tersenyum, menampakkan lagi wajah malaikat yang sesungguhnya meluluhkan hatiku, “aku nggak pernah mencoba membuatmu lebih baik, bahkan tak juga mencoba membuat orang lain lebih baik, kamu tahu ? aku Cuma bertugas membuat orang tersenyum selama ia tak perlu penjepit pipi..”

Aku tersenyum miris, “kamu pikir ini lucu ?”

Zen diam berpura-pura berfikir, “enggak.”

Sejak itu aku malah lebih sering bersamanya, ia seperti abang yang ada dimana-mana untukku, bahkan nyamuk saja tak pernah muncul saat aku mengharapkannya ?

Sejak aku bertemu abang baruku, aku kembali sekolah meski tak lagi dijuluki bintang bulu tangkis. Tak apalah, zen bilang untuk menjadi bintang aku tak perlu kaki dan tangan yang sempurna, aku cukup punya api yang membara di sini, di dadaku...
“tapi zen, bahkan untuk naik tangga sekolah saja aku merepotkan...”

Dan sejak itu pula aku mulai bisa menerima semuanya dengan lapang dada, aku mulai menyadari seperti yang zen bilang bahwa rayap tak pernah minta di tuntun untuk tahu betapa tanpa sepasang matapun ia bisa membangun sebuah menara.
“tapi zen...tapi zen....tapi zen...” dan semua tapi-tapian itu hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu dan aku mulai sibuk dengan kegiatan ilmiah disekolah. Aku mulai tak perlu lagi zen bermulut penuh busa untuk menghentikan setiap keluh kesahku.

Suatu kali, saat pulang sekolah zen datang ke rumah ku dan lucunya dia dengan dua penyangga kaki diketiaknya, “hei, zen, apa ini bagian dari semua hal yang kau rencanakan untuk membuat aku senyum tanpa penjepit pipi ?”

Zen tersenyum, “ ini bagian dari hidup...kamu tahu hidup tak pernah berhenti meski sebagian penting darinya tak lagi berfungsi, hem, kamu mengerti..?”

Aku mengangguk lalu tersenyum,”enggak zen, aku nggak ngerti, sekali-kali pake bahasa gaul kek..”
“suatu hari nanti kamu akan mengerti...”.

Ya, sampai dua minggu kemudian dan aku di tugasi Bu mela untuk mengadakan wawancara dengan pasien di rumah sakit blabla. Aku tak pernah mengerti kalimat yang di ucapkan zen saat terakhir kali bertemu denganku, aku tak berusaha mencarinya dan tak juga memohon mohon minta penjelasan kalimatnya itu, tidak ! mungkin dia sibuk, mama bilang ia orang hebat, ia mungkin sibuk !

Sudahlah, jangan-jangan nanti dia tiba-tiba alay dan saat aku memohon-mohon dia malah bilang, ‘mau tahu aja apa mau tahu banget ? kan berabe...

Di rumah sakit blabla, aku nampak benar seperti orang linglung, yah...bingung siapa yang harus ku wawancara, apa aku harus mewawancarai bayi baru lahir dan bertanya, bagaimana rasanya didalam perut ibu ? konyol.

Dan aku putuskan untuk bertanya pada entah siapa, yang duduk dikursi roda dan bertopi pandan yang sedang merenung dijendela besar rumah sakit ini.
“maaf..”aku menyentuh pundaknya perlahan, takut tiba-tiba dia berbalik dan mendorong kursi rodaku kejendela besar sampai kacanya pecah dan aku terbang seperti dulu.

Tidak, ia berbalik dan tidak mendorongku, ia malah membuat ku menjatuhkan papan dada dan pulpen yang ku pegang erat-erat, “kamu ?”
“ceritakan zen, dan mengapa ?! “aku seperti lupa hendak apa aku ke rumah sakit ini, aku tak perlu mewawancarai laki-laki bertopi pandan berkursi roda itu, ia zen !
“kau sudah menemukan jawabannya ray ?”zen lagi lagi tersenyum, ia cukup membuatku terkejut setengah mati.

Tiga hari kemudian aku tak pernah lagi mengharapkan kedatangannya kerumahku seperti biasa, sebenarnya aku takut, tapi aku tak bisa menampakkan betapa aku marah padanya, ia berbohong.

Sepulang sekolah, aku mengunjunginya di kamar blabla no blabla lantai blabla rumah sakit blabla, kau tahu ? sejujurnya aku ingin tertawa melihat kepala zen jadi plontos seperti bakso, tapi sekarang aku ingin menangis.
“zen, apa ini bagian rencana mu membuat aku merasa lebih baik..?” tanpa sadar aku menjatuhkan setetes air yang begitu cepat turun secepat semua kejadian ini.

Zen diam, selang oksigen dihidungnya bergerak sedikit pertanda zen masih mendengar suara ku yang sedikit terisak. Lalu zen berusaha tersenyum dengan susah payah...
“zen, mengapa kau sekuat itu ? kau tak pernah bilang bahwa kau juga sama sakitnya dengan aku...padahal kalau kau bilang, aku pasti akan cepat lebih baik...”

Zen tersenyum lagi, sepertinya bahkan hanya untuk menunjukkan senyum saja ia sulit, tapi aku menyadari tanpa kata-kata dan mulut berbusa, ia telah memberi ku satu kalimat lagi, ‘senyumlah selama kau tak perlu penjepit pipi...’.

Maka, aku mengusap air mataku dan aku bernafas lega, “ terima kasih zen...”.

Kau aneh zen ! kenapa kau begitu bodoh, kau biarkan jasadmu mati tapi kau malah meninggalkan kalimat-kalimat itu disini kau tahu ? kalimat itu takkan pernah hilang dari pikiranku selamanya, kenapa tidak kau bawa saja ? biar suatu saat kau bisa cerita pada semua penghuni syurga ?kau memang abang teraneh yang pernah ku kenal, tapi...

Minggu, 24 Februari 2013

Melodi sobat polos


                  
  • Nama Lengkap : Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan
  • Nama panggilan : Iqbaal, Iqbaale, Baale, Ale
  • Lahir : Surabaya, 28 Desember 1999
  • Zodiak : Capricorn
  • Sekolah : SDIT Al-Muhajirin (SD)
    • Global Islamic School (SMP)
  • Agama : Islam
  • Karir :
  • - Cast of MUSIKAL LASKAR PELANGI
  • - A MASTERPIECE of ERWIN GUTAWA
  • - THE MOVIE LIMA ELANG
  • - COBOY JR
  • - VIDEO CLIP "THE RAIN"
  • FanBase : @soniq_iqbaal
  • Fanpage :Official FanPage - Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan
  • Blog : http://iqbaale.blogspot.com/
Dan ini sedikit fakta tentang Iqbaal :
- Iqbaal ini yang paling banyak fansnya di Coboy junior, dia memiliki followers terbanyak juga di twitter
- Iqbaal itu ngefans banget sama Justin Bieber
- Iqbaal alim banget, dia selalu nyempetin buat sholat
- Cita-citanya pengen jadi Ustadz dan bisa ngehafalin Al-Qur'an
- Agak manja orangnya
- Nggak suka SoniQ yang alay dan fanatik
- Punya kakak namanya Fildza Hasnamudhia yang biasa di panggil Teh Ody
- Ayahnya Herry Hernawan dan Bundanya Rieke Damayanti

oke segitu dulu aja ya, nanti saya post lagi yang lebih banyak :)

Kamis, 10 Januari 2013

Sahabat sejati

                 Senja yang dulu indah kini menjadi temaram dan bulan yang dulu purnama kini perlahan berubah menjadi sabit. Seperti keadaan hati seorang gadis remaja yang meratapi kekosongan dan kehampaan hatinya karena ditinggal oleh sahabat yang selama ini setia menemaninya baik syka maupun duka. Dulu, waktu usiaku beranjak 17 tahun, aku mempunyai beberapa sahabat salah satunya Icha. Icha tinggal di Ciracas, JakartaTimur. Dia anak pertama dari 2 bersaudara, dia adalah seorang remaja yang lugu dan sangat ceria. Kami bersahabat suddah cukup lama, aku kenal Icha waktu kami sama-sama mendaftar di salah satu SMP favorit di Jakarta. Setelah awal oerkenalan itu,pertemanan kami berlanjut karena kami diterima di SMP itu. Kami selalu bersama-sama bagai amplop dan perangko yang tak dapat terpisahkan, itulah kami. Kami juga selalu satu kelas.

Setelah lulus SMP aku dan Icha memutuskan untuk satu sekolah, hari pertama aku dan Icha menjalani ospek, rasanya takut dan tegang banget, tapi aku melihat seorang cowok yang sangat perfeck di kantin sekolah, dia sangat manis apalagi pada saat aku melihatnya sedang tersenyum pada beberapa orang yang menyapanya, manis sekali senyumnya, disaat aku sedang asyik memperhatikan cowok itu tanpa ku sadari didepanku ada salah seorang kakak senior yang sangat galak, upzzz…. Aku menabrak dia, dia marah-marah padaku meski aku telah minta maaf padanya, lupakan saja dia kita kembali pada cowok yang aku lihat tadi, tapi aku mencari-cari kesekeliling kantin tapi cowok itu udah gak ada. Icha hanya tertawa melihat tingkah lakuku. Huh… ini semua gara-gara keteledoranku, tapi gak apa-apa suatu hari nanti pasti aku dapat bertemu dengannya kembaali karena aku yakin dia siswa di SMA ini. Aku dan Icha melanjutkan perjalanan kami ke kelas. Ospek pertama telah dimulai, ada beberapa kakak senior masuk kekelas tanpa ku sadari cowok yang ku lihat di kantin sekolah tadi pagi ada didepan mataku. Aku senang sekali karena aku kembali beetemu dengannya walau dia tak ku kenal sama sekali.
Aku mencari tau siapa sebenarnya cowok itu, dari beberapa orang yang aku tanya mereka mengatakan dia adalah ketua osis, namanya radit, Cuma itu informasi aku dapatkan tentang dia, tapi udah cukup kok. Singkat cerita aku dan kak Radit mnjedi tambah akrab tapi cuma sebatas teman. Yang tak pernah aku duga ternyata kak Radit naksir sama Icha, aku sedih banget karena dia adalah cinta pertamaku, tapi apa daya aku tak bisa berbuat apa-apa, dan aku juga sempat kecewa pada Icha karena dia menerima kak Radit menjadi kekasihnya, Icha kan tau kalau aku suka sama kak Radit tapi kenapa dia tega padaku. Mungkin inilah nasibku, setelah kejadian itu persahabatan aku dan Icha menjadi renggang, aku jarang menyapanya dan sepertinya juga dia sekarang jarang ada waktu buat kita berdua sanma-sama lagi seperti dulu. Lagi pula aku tak sekelas dengannya.

Waktu terus berputar, tanpa terasa tahunpun berganti. Akhir-akhir ini aku melihat Icha tampak murung dan gak seperti biasanya yang sangat ceria. Walau aku belum bisa memaafkan Icha tapi walau bagaimanapun dia adalah sahabatku dan aku harus tau apa yang sedang terjadi. Satauku dari berita yang beredar kalau Icha mengidap penyakit tumor yang bersarang diperutnya sejak beberapa tahun ini, sejak dokter memfonis penyakit itu Icha berubah menjadi nak yang pemurung danpendiam. Aku sangat merasakan perubahan itu, tapi setiap kali aku tanya dia tak pernah mau cerita dan jujur padaku. Menurutku dia berubah menjadi seperti itu karena mungkin dia merasa hidupnya tak akan lama lagi. Seiring berjalannya waktu perut Icha makin membesar, aku belum percaya dengan apa yang temen-temen bilang padaku. Aku desak Icha untuk menceritakan apa yang terjadi padanya, akhirnya Icha mau bercerita. Aku sempat terkejut mendangarnya sekaligus sedih bercampur dengan rasa kekecewaan, mengapa baru seekarang dia cerita semua itu padaku. Tapi mungkin karena aku tak sedekat dulu sama dia. Aku juga denger-denger dari yang laen Icha putus, Icha diputuskan kak Radit karena keadaan Icha dg perut yang makin membesar. Aku sedih sekali, tapi dia pernah menghianati persahabatan yang telah lama kami bangun.

Icha masih tetap sekolah, tapi lama kelamaan dia merasa kecil hati dan malu. Dengan kondisi tubuh yang semakin menurun, sampai akhirnya Icha dirawat di Rumah sakit Haji Pondok Gede. Aku dan teman-taman menjenguknya untuk memberikan semangat dan dukungan padanya agar Icha gak semakin drop dan putus asa. Hanya sampai disitu saja kabar yang aku dengar tentang Icha, disatu sisi aku masih kecewa padanya tapi disisi lain aku juga mempersiapkan UN.
****

Pagi hari yang sangat gelap karena hujan turun begitu derasnya, aku sedang duduk melamun memikirkan bagaimana keadaan Icha sekarang, tiba-tiba aku dikejutkan dengan ringtone handphoneku yang berbunyi dank u lihat dilayar hpku ternyata mamanya Icha memanggil, fikirku tumben tapi ada apa ya, kok pagi-pagi gini tante telfon aku. “halo assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Cika?”, nada suara mama Icha tampak berat, sepertinya dia sedang menangis. “ii…aaa tante, ada apa kokpagi-pagi begini telfon Cika? Trus bagaimana kabar Icha tante?” tanyaku agak ragu, “Icha telah berpulang Ka” belum sempat aku mengucapkan turut berduka cita pada tante, tut…tut…tut…tut telfon tiba-tiba terputus. Aku menangis dan menyesali dengan semua yang terjadi, dihatiku tersirat penyesalan yang amat mendalam, aku terlalu jahat dan egois pada Icha dan gak pernah meluangkan waktu untuk menjenguk sahabatku sendiri yang menjalani hari-hari akhirnya sendirian, tanpa aku. “Maafkan sahabatmu ini Ca…..hik..hik..hik…!!!” tangisku
Aku datang ke rumah Icha untuk melihat dia terakhir kalinya dan mengucapkan bela sungkawa pada keluarga Icha. Setibaku disana aku melihat Icha terbaring kaku, dikelilingi orang-orang yang membaca yasin untuknya, tiba-tiba pandanganku menjadi gelap. “Icha…..” panggilku, “sudahlah Ka, relakanlah kepergian Icha, agar dia tenang di Alam sana” mama Icha ada disampingku, dan memberikan selembar kertas padaku, “ini dari Icha buat kamu, dia menulis pada saat kamu jarang menemuinya, tante tinggal dulu kebawah”. “makasih tante dan Cika minta maaf kalo selama ini Cika gak pernah menjenguk dia, Cika lagi UN tante,” aku menangis. “gak apa-apa kok tante ngerti, kamu ada masalah ya sama Icha?” tanya mama Icha, “eng…enggak kok tante, kami berdua baik-baik saja””ya udah jangan nangis lagi, tante ke bawah bdulu ya” tante pun meninggalkanku sendiri di kamar Icha karena Perlahan-lahan tadi aku pingsan, aku melihat foto-foto yang ada dimeja samping tempat tidur, betapa lembutnya senyum Icha di foto itu. aku buka kertas ituperlahan-lahan, dan aku pun mulai membaca kata demi kata disurat itu.
Sebelumnya gue minta maaf atas kejadian kemaren”, bukan maksud gue untuk merebut kak Radit dari lo, tapi gue juga cinta dia dan gue juga udah putus ma dia, karena dia bukan laki-laki yang baik. O ya, lo tau kan kalo gue gak bisa buat puisi kayak lo, tapi ini puisi gue buat khusus sahabat sejati gue ini, maaf ya kalo buatan gue gak sebagus puisi-puisi lo, heheheh……..


Surat Terakhir
Butir-butiran air mata yang jatuh setetes demi setetes
Menemani dan menjadi saksi saat ku tulis suratku yang terakhir
Jika hanya derita yang harus aku terima
Jika hanya kemitian yang harus ku alami
Aku bersedia menjalani tanpa kesedihan
Namun ketika kau berucap bahwa untukku
Sudah tak ada lagi maaf terasa lemah lunglai tubuh ini
Sahabat yang slalu mengisi hari-hariku
Seberapa besarpun salah yang ku pandang
Seberapa rendah budi yang ku jalani…maafkan aku
Derita karena bersalah berlarut-larut tanpa henti
Dan tampaknya Tuhan sudah berkenan menjemputku
Jangan menangis sahabat….walau tak terkatakan
Sungguh aku merasa kau telah memaafkanku
Slamat tinggal sahabat sejatiku
Ikhlaskanlah kepergiankui
Smoga sepeninggalku dari sisimu
Bahagian akan slalu menemanimu
Miss u sobat
ICHA
****

Keesokan harinya Aku baru sadar ternyata Icha hari ini berulang tahun yang ke 17, aku bermalam di rumah Icha, dan pagi-pagi aku segera kebawah dan akan mengikuti pemakaman Icha. Sebenarrnya aku tak sanggup melihat makam itu, karena akan mengingatkanku akan kenangan” kami berdua dulu, tapi aku coba untuk tegar untuk melangkahkan kaki menuju makamnya. Setelah pemakaman selesai dan semua orang pulang, aku sendiri di makam itu, sepi. Aku menangis disamping nisan Icha, walau tersendat-sendat dan terbata karena aku nangis aku nyanyikan lagu happy birthday buat Icha, dan memandangi nisan yang ada dihadapanku saat ini, makam yang sunyi, aku masih menangis sendiri di makam bisu itu, sebelum pulang aku meninggalkan secarik kertas balasan surat Icha, walau mungkin tak akan pernah dibaca olehnya, tapi itulah kenanganterakhirku buat Icha.

Kenangan indah tentang kita akan slalu ku ingat setiap detiknya
Jika ku tutup mataku, aku masih dapat melihatmu
Kau memperlihatkan senyum termanismu
Tapi itu hanya lamunan sesaatku
Kini kau telah jauh tinggalkanku
Aku belum sempat meminta maaf padamu dan menyayangimu
Dan tak ingin kau pergi jauh
Tinggalkan kenangan kita bersama
Tapi takdir berkatab lain
Terlalu cepat Tuhan memanggilmu
Hanya sebuah puisi ini aku persembahkan untukmu
Kepergianmu, meninggalkan kisah yang sangat pahit bagiku
Aku akan selalu mengenangmu, sahabat terbaikku
Semoga kau tenang disana
Suatu saat kita pasti akan bertemu kembali
(the end)

Selasa, 09 Oktober 2012

PUISI UNTUK IBU

 PUISI UNTUK IBU



besar pengorbanan yg Engkau berikan
tak satu’pun langkah’mu yg tak berarti di hidupku
kau keluarkan semua tenaga’mu untuk melahirkan’ku
meski semua yg terbaik telah ku berikan pada’mu
itu semua tak akan bisa menggantikan semua
    secoret kata ini, kutuliskan
    betapa besar pengorbanan’mu untuk anak’mu
    kini aku bisa memahami,
    betapa berartinya diri’mu di dunia’ku

tak mampu aku membalas semua pengorbanan’mu
hanya menghormati dan memberi yg terbaik untuk’mu
meski tak besar,aku terus berusaha untuk bisa membuat diri’mu tersenyum melihat anak’mu
IBU terimakasih, kasih dan pengorbanan’mu akan terus aku ingat.

Minggu, 18 Maret 2012

tertawa menderita

Cerpen Remaja Sedih : tertawa menderita

Cerpen Remaja
Cerpen Remaja Sedih : Menertawakan Derita cerita ini berisikan sebuah masalah yang dihadapai dengan kepala  dingin sehingga ia menertawakan derita nya, aneh bukan? silakan dibaca dech ^_^

Dalam guyuran hujan itu dua insan menerjang berarah mengukir cerita untuk sebuah keindahan kelak.Menahan rasa sakit sang wanita tetap menemani setia di setiap jalannya mereka berdua.Duduk beriring meneduh di sudut kota itu,berpikir sesuatu sang pria berusaha membagi kesakitan itu dengan dirinya.”Pakai ini agar kau tak menggigil seperti itu..”tegas dia katakan.”Tapi kamu...??ini sudah satu satunya penghangat di tubuhmu yan.”bujuk sang wanita.Karena lama tertahan oleh hujan,mereka akhirnya memilih pulang menembus rintik air yang tak kunjung reda sejak senja datang.

  Keesokan harinya,Kian menoleh ke wajah kecil yang tertata indah di dinding kamar,membangunkannya.”ayook bangunn udah siang!!!”sapa Kian.Ini adalah hal kecil yang selalu mereka lakukan,walaupun tak langsung bertatap muka tapi sapaan pagi itu cukup menyejukkan kala dunia mulai beranjak berjalan.

Cepat cepat ia bergegas,karena pagi buta itu Kian harus sudah terjaga,teringat bahwa dia harus segera mengantar seseorang untuk mendapat keadaan tubuh yang lebih baik."Segalanya nya akan baik baik saja,tak usah kau khawatirkan dengan detik yang belum kau jalani Kara"::terang pria itu menyakinkan.Hanya bisa tersenyum yakin,sang wanita ambil langkah menuju seorang berkaca mata dan berseragam putih.

Tak lama berselang wajah lugu itu keluar dari ruangan tersebut mengagetkan Kian yang menunggu.”kok cepet,ga di apa apain kan sama dokternya??”gurau Kian menghibur.”apaan sihh,emang mau di apain,ya diperiksa doang yan”Kara menjawab dengan gembira.Hari itu pertama kali Kara memeriksakan keadaan tubuhnya dan dia seperti sangat gembira bukan karena tak harus menelan pil yang tak ia sukai atau pun di suntik dengan jarum yang terlalu besar menurutnya,namun karena kini ia merasa tak sendiri lagi dengan keadaan beban itu,ada seseorang yang akan selalu setia ia bagi bersama beban itu,membuat nya bisa menertawakan derita itu dan menghibur nya sepanjang malam.Sungguh ini benar,bukan seperti mimpi indah yang hilang ketika bangun di pagi hari.




Hingga suatu hari,mulai dari tempatnya berpijak langkah letih Kara terus berjalan membawa kotak berisi sesuatu seperti anak ayam mencari induknya.Dan langkah nya terhenti ketika sampai di depan gerobak kecil dalam pasar mewah tempat Kian bekerja.Yaahh,,Kara saat itu tau,Kian tak sempat membawa perbekalan apapun untuk dimakan nantinya.Terkaget Kian menyapa Kara yang terus memandanginya”heiii,,,ngapain??”tanya Kian.”Ini aku bawain makanan buat kamu yan,aku tau kamu lagi kelaperan kayak anak kucing kann^^,,ampek cungkring gini”goda Kara.”beehh..aku cungkring mah udah dari sono nya Kara,tapi bentar,,ini bukan mie lagi kan,bisa kriting ini perut kalo makan mie terus.^^”

***

Hari hari mereka berdua di habiskan untuk semua kenangan terindah bahkan untuk hal sederhana.Karena bagi mereka berdua tak perlu mewah untuk merasa bahagia,tak perlu terbawa kesedihan saat duka itu ada,dan tak perlu beralasan untuk sebuah keindahan.Keyakinan bersama itu mereka tumbuhkan meski dalam keakrabab yang terjadi begitu singkat.Bukan sekedar keakraban yang lama terjalin atau pendekatan yang tekun,namun semua tentang keselarasan dua hati.Sedikit menyontek kata kata dari seorang filosofi yunani.

Ini bukan tentang keadaan fisik lagi tapi murni tentang perasaan hati.Bukan hal yang sudah di lakukan dan terus dilupakan tapi pengingat sejati tentang sebuah kenangan dunia,bukan tentang keabadian sesaat tapi hanya pertemuan yang singkat.Menyadari akan hal itu Kara dan Kian selalu memandang setiap detik yang mereka lalui sebagai kesempatan yang ada,dari pada terus memikirkan hal yang mereka berdua tak kehendaki.

***

Lalu tiba – tiba praaakkkkk !!….Kian terjatuh membentur sebuah badan meja yang kuat menopang barang,bukan karena tak menjaga mata waktu berjalan atau di alihkan sesuatu.Itu karena raga Kian sudah terlalu lama menahan sebuah *kesakitan itu,*kesakitan dalam itu.Hal yang selalu tak ia perlihatkan dengan setiap tawa dalam hari nya. Pelipis nya terus mengucur darah segar seperti sungai dalam jalur menuju laut lepas.Mendengar keadaan tersebut Kara berlari mendekat dengan keadaan tubuh yang sudah lebih membaik dari hari lalu.Keadaan yang sangat berbalik dengan Kian yang sudah berada dalam saat saat tak sadarkan diri itu.

Tak kalah hebat air mata pun ikut menetes terus tak henti hentinya dari wajah wanita lugu itu menangisi keadaan Kian sekarang.Sungguh tak terbayangkan,orang yang selalu mendukung nya dari beban itu,mengeratkan genggaman saat rapuh,membuat derita nya menjadi canda tawa bahagia,ternyata menopang beban jauh begitu berat tentang sebuah *kesakitan dalam itu.

Sampai petang menjelang,meski untuk bernafas saja sulit,sang wanita tetap tersenyum lirih sembari membuka lembar demi lembar goresan pena dari seorang yang ia cintai.Hal yang setiap malam dikerjakan oleh Kian untuk mengistimewakan Kara dengan goresannya tersebut.Mereka saling membagi beban beban dan tawa itu.Layaknya orang yang baru saja berkenalan di kesejukan malam.Bukan senyuman palsu  yang ia keluarkan,namun sungguh sangat bersyukur dapat di  pertemukan dengan seseorang yang mampu menjadi teman dalam hidupnya membuat segalanya terlihat mudah bersamanya dengan keadaan yang singkat ini.

***
Dan waktu terus berayun memutar,hidup pun seperti tiada henti untuk berubah.Keadaan buruk sedikit demi sedikit mulai membaik.Mereka tetap dalam satu genggaman melaju penuh keyakinan meski kadang tak terlihat sempurna di dalam diri mereka. Karena ada senyuman dalam tiap derita,ada kebahagiaan dalam sebuah kesederhanaan meski pun kadang kita harus juga menertawakan derita.

*Kesakitan itu sesuatu yang tak akan mereka bagi karena itu tak seburuk seperti apa yang di bayangkan.Karena mimpi mimpi itu masih tersimpan sangat rapat dan untuk di wujudkan.Tersenyum dalam setiap derita itu.

bayangan hantu


-pekerjaan ku sudah kelar.
Aku sudah membuat semuanya menjadi lebih baik.
Aku menyunggingkan senyum pada manusia itu.
Dia tergeletak tak berdaya di pojokan ruangan.
Itu lah balasan bagi orang yang jahat batinku.
Aku membersihkan peralatan suciku dari darah orang itu.
Aku tak ingin peralatan ku dikotori oleh dosa dosa yang beradu dalam merah nya darah yang sedari tadi mengucur dari tubuh beku itu.
Setelah memberesi peralatan suciku , aku segera bergegas meninggalkan tempat tersebut.


New orelans, 19th june 1981

-aku tersenyum melihat judul deadline yang terpajang rapi di koran pagi ini.
'seorang laki laki ditemukan tewas mengenaskan di rumahnya'dia pantas mendapatkan nya batinku.
Karena dia telah mendustakan tuhanku.
Maka dia pantas mendapatkan neraka.
Aku yakin tuhan akan bangga pada aku.
Umat yang selalu memberantas kejahatan di dunia ini.
Masih membaca koran,suara jane,salah satu suster yang bekerja di klinik milik ku membuyarkkan ku.
'dokter bob ,ada pasien yang harus ditangani.' ujarnya sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk .'suruh dia masuk jane,'perintahku.
Dia hanya manggut manggut.
Lalu bergegas meninggalkan ku.
Mungkin dia akan memanggil pasien ku.


=bersambung=

Sabtu, 17 Maret 2012

perjalanan

Waktu Terasa semakin berlalu…

Tinggalkan Cerita tentang kita

Akan tiada lagi kini tawamu

Tuk Hapuskan semua sepi dihati…



Ada cerita tentang Aku dan Dia

Dan kita bersama saat dulu kala

Ada cerita masa yang indah

Saat kita berduka saat kita tertawa

( Peterpan )



Ku  masih dan selalu saja meratapi diriku. Entah sampai kapan ku akan terus seperti ini. Pekerjaanku sepulang sekolah adalah melamun dan selalu melamun. Sambil mendengarkan lagu cinta sejatiku Peter Pan. ku sudah hafal lagu itu, sebab hanya satu lagu itulah yang menjadi temanku sehari-hari. Lagu itu menyimpan kenangan atau seakan lagu itu adalah harapan.

Sambil terus mendengarkan Peterpan yang diputar beberapa kali, ku memandangi foto lama di HP-ku. Gambar itu adalah seorang Gadis remaja kecil dan Lelaki remaja kecil berseragam biru-putih. Dua anak itu bergaya. Berpegangan tangan dengan wajahnya seperti menarik senyuman. Ku tertawa sendiri teringat dengan semua kisah masa laluku.

“ D’, a cakep nggak gini?” ku meminta pendapat Anis. Saat itu, Aku baru saja mencukur rambut.

“ Idih, Cakep ko.. daripada botak kaya kemaren!” ujar Anis kecil sambil tertawa.

“ Hmm.. masa sih d, kamu juga cakep d”

“ He” narsis banget sih kamu a”

“ kenapa ? ko Narsis!”

“ Ia, ini foto-foto aja”

“ Buat kenang-kenangan d’, kita kan mau lulus! Gimana-gimana juga, jelek-jelek juga, ni sekolah kan yang mempertemukan kita d”.

.

Ku tertawa lagi, tapi ia sadar bahwa semuanya adalah hanya kenangan masa lalu ketika ku bersekolah Menengah Pertama.

“ Dimana Hati kamu sekarang, d? Apa ku gak bias nemuinnya lagi?”

Ku lelah. ku mematikan Audio Playern. Dan Peterpen pun berhenti menyanyi.



***



Nun jauh disana, entah Anis sedang melakukan apa. Apakah sama juga sedang teringat pada masa laluanya bersamaku.

“ A… kamu dimana? D’ takut a’ kenapa-napa…!”  a’ kemana teriak anis penuh kekhawatiran ketika ku Pergi Kabur Meninggalkan Rumah .

Dan ku memang sedang terombang-ambing diantara hidup dan mati ditengah masalah Hidupku itu.  Aku pergi pergi meninggalkan Pulau Jawa. Pesan terakhirku saat itu ku bilang “ d’, kamu baik-baik ya dsini, insya allah nanti kita ktemu lagi, jaga diri baik-baik d’ ”.

Anis tak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa  menangis.

“ Aaaaaaaaaaaaaaaaa…!” teriaknya saat disekolah dan mencertakan kepergiaanku kepada teman-teman yang lain.

Segera Anis bersama teman-teman yang lain mencoba mencariku. HP ku lobet, ia tak bias Kontek denganku, dan akupun tak bicara jika ku pergi kemana? Tapi ku juga merasa gelisah, hingga akhirnya ku Sempat SMS dia menggunakan HP orang lain. Hingga aku berulang-ulang di- Telponnya, Hingga akhirnya ku Terayu olehnya tuk Pulang. 3 hari Kepergiaanku ternyata membuatku mengetahui berapa besar Sayang Anis untukku.

Hari-hari kita memang selalu berdua tak pernah terpisahkan. Berangkat dan pulang sekolah, selalu berdua. Mendapat Peran Teater pun menjadi pasangan Raja dan Ratu. Cinta sudah terpatri dihatiku dengannya meski tak terucap kata cinta itu. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Padahal, orang tua ia tak setuju dengan ke akraban aku dengannya.  Tapi, biar orang tua tak setuju. Kita berikrar tak akan pernah terpisah untuk selama-lamanya.



“ KR-EHB IS TRUE LOVE, AND ALWAYS TOGETHER FOREVER!” begitu janji ku pada Anis.

Dan kenyataan kita terpisah. Ternyata Aku tak seperti dulu dan Anispun bukan anis yang ku kenal dulu. Tapi sungguh ku masih sangat mencintainya.



***



Tiga tahun tentu bukanlah waktu yang sebentar, itu adalah waktu yang sangat lama untuk membangun sebuah Bangunan Cinta nan amat Kokoh . Selama sekian tahun itu, aku dan Anis bersama. Namun itu tak meluluhkan kerasnya Hati Anis sekarang, ia seakan tak acuh lagi denganku, dan sampai aku memutuskan tuk memcoba Membencinya.

“ D’… kenapa kamu sekarang? Tahukah kamu, aku sangat mencintaimu?” ku coba menitipkan kata pada angin yang bersiyur. Mudah-mudahan saja Anis mendengarnya disana.

Tiga tahun runtuh seperti ini. Tak ka nada lagi lika-liku Cinta antara ku dengannya,, Jika ada sebuah Penghargaan munkin aku dengannya adalah Pasangan yang sangat banyak mendapatkan penghargaan, Pasangan Putus-Nyambung, Pasangan ter-unik, Ter-Aneh, Ter-, Ter- dech. Tapi kini hanya Harapan, seketika Hati Anis Membeku sekeras batu nana mat besar yang tak bisah terluluhkan lagi. Hancurlah harapanku untuk bisa slalu dengan cintanya itu.

“ Bagaimana jika ternyata Anis mengkhianatiku, lalu ia kini bersanding dengan orang lain” .  Hati ku  mulai berprasangka yang tidak-tidak, karena ku paling tak terima jika ia dekat dengan orang lain”.

“ Ah, tapi buat apa, aku tak terima! Itu Haknya, dia mau punya Pacar baru tah, balikan ma pacar  lamanya tah,, aku tak punya hak ngurusin dia lagi” Gertak hatiku, memarahi diriku yang Egois ini.

Ah, hatiku berperang, bergejolak pertarungan kata-kata antara Ego dan Hatinya.

“ Sekali lagi, aku yakinkan padamu, Mi. Anis bukan Siapa-siapa lagi untukmu. kamu tak punya hak lagi ngurusin dia..” bisik hati Ku.

Disini kumelihat atap dinding yang bolong. ku seperti melihat bayangan masa lalunya ketikaku Kabur dan Anis menangis khawatir. Huh!



***



Di kamar ini ku Sejenak Terdiam, mencoba Menerima semuanya yang telah terjadi. Yang Sudah, YA SUDAHLAH!! Mungkin ini adalah akhir dari Perjalananku dengannya,, dan langkah awal tuk melangkah kembali mencari Cinta sejatiku. Kucoba hapus Kesedihannku, Menutup Cerita bersamanya dan membuka Cerita baru. Aku sejenak Tenang, hatiku dan Egoku mulai Selaras, beberapa menit itu telah membuatku melupakan Kepedihanku. Saat ku berpaling ke dinding kumelihat Boneka itu, boneka pemberiaan dari Anis. Huh, kembali Hatiku di Ingatkan kembali oleh Cerita lamaku bersama Anis. “Ya allah kapan ini semua akan berakhir, aku sudah tak tahan atas semua ini. Ya aku mencintainya, aku menyayanginya.. tapi ini semua tak bisa dipaksakan lagi” gemuruh Jiwaku bertanya kepada sang Ilahi.

Lagi-lagi aku harus berperang dengan Hatiku, entah sampai kapan ini semuanya berakhir… tapi ku tak mau begini, mungkin butuh waktu tuk hapus semuanya.

Pesanku untuknya ” Cinta ini memang tak Bisa karena Terpaksa, harus keTulusanlah yang bisa membuat Cinta Abadi, tapi bukan inilah Jalan terbaik yang kau Pilih. Tapi ya sudahlah ini semua telah Menjadi Keputusanmu” dan Permintaanku kepadanya ” Be the first woman I knew, my very dear. and looks beautiful and Sholeha  always wherever you stepped your steps.

“ KR-EHB IS TRUE LOVE, AND ALWAYS TOGETHER FOREVER!”

Past Goodbye, Remember always with me and my story.



***


BC, tempat menetapku sekarang…

Ciruas, Serang-Banten

Juni 2011

  Oleh Al-Khoerit
*Al-Khoerit adalah nama pena Elmi Hanjar Bait